Hati



Pernikahan adalah ikatan suci sepasang manusia. Tidak ada orang yang tidak menginginkannya. Aku pun sangat menginginkannya. Hari itu, ditahun 2010, untuk pertama kalinya aku menginginkannya. Banyak hal baik yang aku dengar tentang pernikahan. Kau tau, tahun itupun untuk pertama kalinya aku lebih banyak membaca mengenai ini. Aku mengikuti berbagai kajian tentang munakahat. Sesekali aku mengikuti tema terkait misalnya tentang parenting. Saat itu aku sangat bersemangat dan aku sangat ingin bertemu denganmu. Pengetahuanku tentang pernikahan tidak hanya didapat dari kajian dan membaca saja. Ditahun yang sama teman sekamarku menikah, sebelum hari H dia selalu memberikan kisah-kisah tentang pernikahan. Disetiap aku terbangun ditengah malam itu, dia menceritakan apa yang diketahuinya tentang pernikahan. Perbincangan malam demi malam itu membawaku pada pemahaman baru bahwasannya menikah bukanlah sesuatu yang melulu tentang kebahagiaan tetapi juga tentang penerimaan. Disana ada kesedihan, kemarahan dan permintaan maaf. Disana adalah sarana pendewasaan kita. Penerimaan adalah hal pertama yang mungkin kita lakukan. Aku saat itu tidak hanya menerimamu saja tetapi aku harus menerima keluargamu, teman-temanmu, impianmu dan masa lalumu. Kaupun seharusnya melakukan hal yang sama. Saat itu, dengan pengetahuan terbatas, aku ingin belajar bersamamu.
Tahun berikutnya aku masih memimpikan hal yang sama tentang pernikahan. Aku menunggumu, aku mendoakanmu dan aku menantikan saat-saat kita belajar bersama. Kau tak kan percaya bahwanya aku merindukanmu meskipun aku tak yakin apakah kita benar-benar sudah dipertemukan atau belum. aku sudah jatuh cinta padamu. Aku tak percaya akan apa yang aku lakukan ini benar atau salah. Hanya saja, meski aku mencintaimu, aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana paras wajahmu, kau sama atau lebih tinggi dariku, berkulit kuning atau sawo matang, aku tak berhasil membayangkannya. Kau tak kan percaya itu. Tahun demi tahun aku lalui tanpamu, aku hidup sendiri sampai tahun ini (2018), aku baik-baik saja. Itulah yang perlu kau ketahui. Hanya saja, kehidupanku begitu tak mudah, aku sering kali menangis sendiri, bahkan saat aku menulis inipun tak berhenti air mataku mengalir. Lagi-lagi kau tak akan percaya.
Aku akan katakan padamu tentang apa yang aku pikirkan. Barangkali aku sudah terlanjur mencintaimu, aku ingin menunda lebih banyak waktu untuk pertemuan kita. Tetapi disatu sisi aku juga sudah sangat merindukanmu. Aku bertanya,”haruskah aku bertemu denganmu lebih cepat?”. Dengan keadaanku yang seperti ini, apakah aku sanggup?. Aku yang tidak punya apa-apa, aku yang masih miskin ilmu dan pengetahuan. Apakah aku layak berada disampingmu?. Sesekali aku membayangkan tentang pertemuan kita, jika pertemuan kita terjadi lebih awal, apakah pemikiran ini akan ada?. Saat itu kita kan menetukan impian bersama dan berjuang bersama pula. Saat itu mungkin aku tidak sendirian menunggumu dan merindukanmu. Saat itu mungkin kita akan tertawa dan menangis bersama.
 Aku percaya kapanpun, dimanapun kita dipertemukan, itulah saat yang tepat untukku bersamamu. “Bisakah kau menungguku lebih lama?” pertanyaanku selankutnya. Aku tidak hanya mencintaimu, aku pula mencintai ayah, ibu dan kedua adikku. Jika aku bersamamu, bukahkah artinya aku akan berpisah lagi dengan mereka?. Delapan tahun aku berpisah dengan mereka karena keegoisanku. Iya, kau benar, impianku adalah keegoisanku. Jika membayangkan 8 tahun sudah berpisah dengan mereka kemudian aku menikah denganmu untuk memperpanjang masa itu, apakah aku sanggup?, apakah itu mudah untuk aku lakukan?. Tak tau mengapa hatiku sangat sakit. Membayangkannya saja aku merasakan kepiluan yang luar biasa. Apa yang harus aku lakukan?.
Pernah aku bertanya, “haruskah aku menikah?”. Pernah pula aku bercerita kepada sahabat-sahabatku. Kau tau apa yang mereka katakan?, “kau sakit ya?, kau umat nabi Muhammad bukan? dan lain sebagainya”. Aku tak tau tepatnya dimulai kapan yang jelas aku pernah memikirkannya. Pernah pula aku memikirkan untuk bertemu denganmu disaat aku sudah siap segala-segalanya, hati dan materi, sehingga ketika kau bersamaku kau tidak akan merasa kesulitan karenaku. Kau tidak akan merasa terbebani dan merasa bersalah karenaku. Aku pernah memikirkan itu..
Hanya saja, aku adalah manusia. Aku tak bisa hidup sendiri. Manusia adalah mahluk sosial. Bahkan pernikahan adalah sebuah kebutuhan. Bukan perkara siap atau tidak siap. Bukan lagi perkara ketidakmampuan dan ketakutan. Jika kau datang, aku harus dengan senang hati menerimamu. Aku ingin tersenyum saat aku pertama kali kali melhatmu. Aku ingin memberikan hatiku padamu untuk pertama kalinya. Kemudian aku ingin bertanya,”maukah kau hidup bersamaku?”

Komentar

Postingan Populer