Hati Part 2

Aku tak tau jika kau akan tertawa ketika aku mengatakan bahwa ada seseorang yang mengatakan padaku dia tidak bisa hidup tanpaku. Kemudian selang berapa lama aku mengatakan, “nyatanya dia masih hidup sampai sekarang”. Terbahak lah sudah kau, mungkin kau lelah jika menyadari bahwa kau sudah terlalu lama tertawa. Aku berhenti bercerita saat itu. Aku tak berani membayangkan bagaimana ekspresi wajahmu ketika aku pertama kali mendengar kalimat itu. Iya, aku katakan padanya, “mari kita bertemu”. Bukan aku merasa terharu atau tersentuh dengan perkataannya. Saat itu aku ketakutan luar biasa. Bagaimana mungkin seseorang sepertiku membuatnya begitu menyukaiku.
Pagi itu aku menemuinya, dia menjemputku tapi tidak dirumahku. Hari itu kami habiskan waktu bersama, kami tidak berdua saja, beberapa temannya ikut membersamai kami. Aku bertanya, “bisakah pertemuan ini membuatnya berhenti mengatakan kalimat itu?”. Ternyata tidak sama sekali. Dia terus mengulangi kata-kata yang sama dengan nada memelas. Aku...? aku kasian padanya. Sebenarnya aku tak mengingikan orang lain terluka terlebih karenaku. Aku tidak ingin menjadi alasan bagi siapapun untuk merasa terbebani. Kemudian aku mengabaikannya dalam waktu yang lama, hingga sampai suatu saat aku dan dia kehilangan kontak. Iya, aku mengganti nomor telponku. Jahat? Tentu saja tidak. Jahat jika aku terus membiarkannya bertemu denganku. Pikirku saat itu. Benar saja, semuanya baik-baik saja. Katakanlah perkara ini adalah perkara waktu. Waktu yang akan menyelesaikan semuanya.

Kau tau bagaimana ini bermula? Kau pasti pernah mendengarkan ceritaku tentang cinta semasa SMP ku dulu. Dia adalah sepupunya, sepupu  jauh. Aku memang sengaja mendekatinya karena ingin dekat dengan sepupunya. Aku tak pernah mengatakan tujuanku sebenarnya. Aku tak suka berbicara di telpon, tetapi ketika dia telpon, aku selalu menerimanya, aku bahkan mendengarkannya bernyanyi dan memainkan gitar. Harapan dalam pembicaraan itu tidak lain aku berharap sesekali saja dia menyinggung sepupunya. Jika iya, aku ingin terus menggali informasi tentang sepupunya darinya. Lama waktu berjalan, apa yang aku harapkan tidak pernah terwujud sampai pada suatu waktu ... “Aku menyukaimu”, katanya. Bak disambar petir, aku kaget.. suka? Denganku? Apakah dia tidak salah?. Begitulah mulanya. Sejak saat itu aku tak lagi dekat dengan seseorang. Meskipun aku membosankan dan rewel, tetap saja ada celah dimana orang lain menyukaiku. Jika rasa suka itu hanya untuknya, aku tidak akan mempermasalahkannya tapi jika rasa suka itu menuntukku untuk bertanggungjawab, aku katakan jangan pernah kau lakukan itu. Kau tau kenapa? Ada rasa bersalah dan sangat melelahkan.

Komentar

Postingan Populer