Seandainya saja

Suatu saat aku pergi disebuah pertemuan para tentor di lembaga bimbingan belajar yang aku ikuti. Seperti acara-acara formal lainnya, memulai dengan perkenalan sesama tentor sampai berfoto bersama. Ditengah acara aku dikejutkan dengan sebuah pertanyaan salah satu tentor. "Jika kita boleh request, pada umur berapa kita ingin meninggal?" begitulah kurang lebih pertanyaannya. Aku akui bahwa pertanyaan ini bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Mungkin ada beberapa atau banyak dari kita untuk tidak menjawabnya jika pilihan itu ada.

Meski dipermulaan aku terkesima dengan pertanyaan ini, sesaat ada bayangan masa lalu yang menjawabnya. Aku rupanya pernah dihadapkan pertanyaannya yang sama jauh dimasa lalu. Saat aku di sekolah dasar aku sempat meminta kepada Sang Pemilik hidup. Saat itu salah satu teman terbaikku kehilangan ibunda tercintanya. Tak berbilang betapa sedihnya hatinya. Sakitnya mungkin melebihi tersayat sembilu. Tak lama adik sahabatku kecelakan lalu lintas. Meski tak sampai meninggal, jelas sekali raut sedih yang begitu besar diwajahnya. Berselang beberapa minggu teman perempuanku meninggal dunia setelah tak masuk dikarena sakit yang berkepanjangan. Tangis meledak ketika aku melayat ke rumah duka. Orang tuanya bercerita sambil terisak sesekali meledak duka dihatinya yang membuat kami yang saat itu ada disana tak kuasa menahan tangis. Melewati beberapa fase ini aku mulai tak sanggup jika suatu saat aku akan merasakan apa yang mereka sarakan. Hingga meledaklah tangisku dan kata-kata itu muncul. "Aku ingin meninggal sebelum orang yang aku sayangi meninggal, biar aku merasakan sakit untuk menggantikan mereka" begitulah kiranya ucapan yang keluar dari hati yang sangat rapuh. 

Pada hari, bulan dan tahun berganti. Pengetahuan bertambah dan pemahaman yang semakin dalam tentang kehidupan. Aku memahami bahwa aku adalah sumber kebahagian dan kesedihan untuk orang-orang yang menyayangiku. Merasakan ini aku ingin hidup lebih lama dibandingkan mereka. Membuat kenangan bahagia lebih banyak untuk mereka. Memberikan senyuman terbaik dan membuat mereka nyaman ada didekatku. Akupun mulai memimpikan sebuah kebahagiaan bersama mereka. Aku ingin membuat kenangan manis saja dan aku ingin membuat sesuatu yang lebih besar dari sebuah kebahagian. Impian inilah yang membuatku ingin hidup lebih lama. 

Sekarang... Aku menggantungkan segalanya kepada Sang Pemilik hidup. berapapun usiaku menghadap-Nya, selagi Dia ridho cukuplah bagiku... 

Komentar

Postingan Populer