Catatan kecil untukmu wahai guru


Masih ingatkah engkau denganku wahai guru? Aku masih sangat mengingatmu. Tutur katamu, kesukaanmu, gelak marah dan tawamu. Aku masih sangat mengingatnya. Kau mungkin sudah tau bahwa aku sudah jengah dengah dengan semua nasihat-nasihatmu. Saat kau memberiku nasihat itu aku selalu mengoceh dan tak mau mendengar lebih banyak ucapanmu. Namun, taukah kau bahwa nasihatmu sampai saat ini masih membekas dan menjadi pengingatku jika aku mulai goyah.

Masih ingatkah engkau dengan muridmu yang pandai sekaligus nakal ini? sudah 10 tahun lebih sejak kita tidak lagi bersama. Aku melanjutkan studiku ke jenjang lebih tinggi. Kau masih di sekolah dasar itu dan tak berapa lama kau dipindah tugaskan. Membuatku tak punya kesempatan lagi untuk menemuimu. Kau pasti bertanya kenapa aku tak bisa menemuimu lagi? bagimu, jarakku denganmu bukanlah jarak yang jauh, namun bagiku saat itu jarakmu denganku sangat jauh. Aku anak pertama dari sebuah keluarga yang sangat membatasiku. Sebab itulah aku tak pernah menemuimu.

Seberapa lamanya aku tak bertemu denganmu. Aku muridmu.... Masih sangat jelas mengingatmu. Kau selalu memanggilku Karmen (pemeran AADC), kau yang selalu mencubit pipiku dan kau selalu membuatku berkata "oh" disetiap pelajaran yang kau ajarkan kepadaku. Kau selalu ada cara untuk membuatku berlama-lama belajar  denganmu. Aku sangat menyesal akan satu hal. Kau tau apa? saat aku melontarkan keberatanku akan cubitan-cubitan yang kau berikan, dengan entengnya aku meminta mencubitmu juga. Kau mempersilahkan dan aku membalasmu. Sungguh aku menyesal telah melakukan itu. Maukah kau memaafkanku wahai guru?

Seberapa lamanya aku tak melihatmu. Aku masih mengingatmu. Saat kau marah, saat kau tertawa dan saat kau membuatku merasa bahwa apapun itu aku bisa melewatinya. Masih ingatkah ketika aku marah padamu? aku saat itu masih sangat belia, tak tau apa yang aku perbuat. Entahlah, aku bahkan tidak tau apa yang membuatku marah saat itu. Merusak semua alat peraga pelajaran matematika. Aku hancurkan semua peraga itu dan membuat teman-teman tidak bisa menggunakannya lagi. Luar biasa tanggapanmu saat itu. Kau tak meluapkan semua emosimu, kau hanya diam dan mungkin kaupun bingung kenapa aku yang kau kenal penurut dan rajin bisa melakukan itu. Saat inipun aku tak tau kenapa aku bisa segila itu. Tak ada hukuman yang kau berikan padaku, kau hanya hanya mengeluarkan petuah-petuah yang sama sekali tidak ingin aku dengar, tetapi lagi-lagi mengendap jauh didasar hatiku.

Sudah 10 tahun lebih sejak kita tak bersama. Saat ini aku sedang menuntut ilmu di kota pelajar. Sebuah kota yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sebuah kota yang aku tau dari sebuah buku yang berjudul "berkunjung di kota Pelajar". Berisi tentang perjalanan seorang anak yang berkunjung di rumah Pamannya. Dibuku itu tertulis banyak sekali perguruan tinggi, situs-situs bersejarah sampai tempat untuk rekreasi. Aku sangat menyukai buku itu, hingga aku tak tau sudah berapa kali aku menghatamkannya. Sekarang aku ada dikota yang tertulis dibuku. Sekarang aku belajar di Universitas tertua di Indonesia. Selama ini aku tak pernah membayangkan bahwa suatu saat aku akan berada disini. Aku sadar bahwa aku hanyalah seorang gadis dari kampung. Memimpikankannya saja tidak berani pak saat itu. Apalagi berharap suatu saat akan berada disini. 

Seiring berjalannya waktu, ternyata aku punya sebuah impian untuk menjadi seseorang yang berguna untuk bangsa ini. Meski pada awalnya aku tak tau apa yang akan aku lakukan kemudian. Namun, saat aku dibangku aliyah aku menemukan jalan itu. Saat aliyah aku ditakdirkan bertemu dengan sosok guru yang lain. Beliau seorang pemimpi sejati, sosok yang keras dan tak segan membuat muridnya tersungkur tak berdaya. Meski demikian, dengan hadirnya beliau aku bisa melakukan sesuatu yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya. Aku tau beliau bukankah seseorang dengan kelemah lembutannya namun kerasnya beliaulah yang membuatku bisa mengerti apa yang aku inginkan.

Sebuah catatan kecil ini semoga kau membacanya wahai guru.Terima kasih telah membuatku berdiri dan melangkah dengan pasti. Terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan untukku. Terima kasih telah menjadi warna dalam hidupku yang sama sekali tak terang. Maafkan aku karena selama ini aku menjadi seseorang yang naif, sok polos dan sok tak tau apa-apa. maafkan aku wahai guru. Sungguh maafkan aku. Kelak, aku ingin bertemu denganmu. Semoga Allah menjodohkan kita untuk bertemu. Aku ingin sekali melihatmu, sangat ingin... 

Sebuah catatan kecil ini semoga kau bisa membacanya wahai guru. Meski kesempatan itu tak ada, bisakah aku menyampaikan sebuah doa untukmu? bisakah aku menyebut namamu dalam doaku? Semoga kau selalu sehat, selalu ceria dan selalu tampan seperti yang pernah aku lihat dulu. Wahai guru, bisakah aku menemuimu?


Sebaik hati menyimpan
Sebaik diri merengkuh
sebaik langkah menjauh
Sebaik itulah aku meredam rindu








Komentar

Postingan Populer